Stabilitas.id – PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk. (TUGU) mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025 dengan raihan laba bersih konsolidasi sebesar Rp711,06 miliar. Perolehan ini didorong oleh penguatan fundamental bisnis dan perbaikan kualitas underwriting di tengah implementasi PSAK 117.
Presiden Direktur Tugu Insurance, Adi Pramana, menjelaskan bahwa laba bersih tersebut ditopang oleh pertumbuhan hasil jasa asuransi yang melesat 39% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1,0 triliun.
“Pendapatan jasa asuransi perseroan sepanjang 2025 mencapai Rp9,11 triliun, naik 22,12% dibanding tahun sebelumnya. Sektor fire & property, offshore, dan aviation menjadi kontributor utama optimalisasi portofolio kami,” ujar Adi dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).
Ketahanan Modal di Atas Regulasi
Dari sisi kesehatan finansial, emiten asuransi anak usaha Pertamina ini mencatatkan tingkat Risk Based Capital (RBC) pada level 410,9%. Angka ini berada jauh di atas ketentuan minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mematok level 120%.
Total aset perseroan per Desember 2025 tercatat sebesar Rp27,71 triliun dengan ekuitas mencapai Rp10,17 triliun. Adi menegaskan, penerapan PSAK 117 (adopsi IFRS 17) memberikan transparansi kinerja berbasis nilai ekonomi yang lebih akurat bagi perusahaan dan investor.
Strategi 2026: Fokus Bisnis Retensi Tinggi
Memasuki tahun 2026, Tugu Insurance memasang target ambisius untuk menjadi perusahaan asuransi restorasi terbesar di Indonesia dari sisi pangsa pasar maupun profitabilitas.
Adi membeberkan sejumlah strategi utama untuk mencapai target tersebut, di antaranya:
Pengembangan Bisnis Retensi Tinggi: Fokus pada lini usaha dengan tingkat retensi besar guna menyelaraskan dengan PSAK terbaru.
Efisiensi Operasional: Integrasi sistem digital dan pusat data untuk mempercepat layanan dan menekan biaya.
Optimalisasi Investasi: Memperkuat manajemen arus kas dan diversifikasi hasil investasi guna menjaga keberlanjutan laba.
“Kami juga akan memperkuat branding dan value proposition perusahaan, didukung oleh manajemen risiko yang ketat untuk menghadapi dinamika industri yang kian kompleks,” pungkas Adi. ***

