Stabilitas.id – Pemerintah Iran dilaporkan mengajukan proposal baru untuk menjamin keamanan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Teheran membuka kemungkinan bagi kapal-kapal komersial untuk melintas secara aman melalui sisi perairan Oman guna meredakan ketegangan di jalur nadi energi dunia tersebut.
Berdasarkan laporan Reuters, usulan ini menjadi bagian dari negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat untuk mencegah eskalasi konflik di kawasan Teluk. Dalam skema tersebut, Iran berkomitmen tidak akan mengganggu kapal yang melintas di jalur perairan Oman, meski tetap mempertahankan kendali penuh di wilayah lautnya sendiri.
“Langkah ini dinilai sebagai upaya pelonggaran sikap setelah sebelumnya Teheran sempat mewacanakan pengenaan biaya lintas bagi kapal komersial yang memicu penolakan internasional,” tulis laporan tersebut, dikutip Jumat (17/4/2026).
Respon Positif Organisasi Maritim Dunia
Langkah Iran tersebut disambut baik oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO). Badan pelayaran di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menekankan pentingnya keamanan transit melalui skema pemisahan lalu lintas internasional yang telah ditetapkan.
Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia bergantung pada jalur vital ini. Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari lalu, arus pelayaran sempat terganggu secara masif, menyebabkan ratusan kapal dan puluhan ribu pelaut tertahan di kawasan Teluk.
Iktikad Baik di Tengah Gencatan Senjata
Seorang pejabat Iran menyebut proposal ini sebagai wujud iktikad baik Teheran untuk menstabilkan kondisi pelayaran global. Pihaknya berharap Washington menunjukkan fleksibilitas serupa dalam perundingan lanjutan, terutama setelah gencatan senjata dua pekan mulai berlaku awal April.
Namun, sejumlah ketidakpastian masih membayangi:
Status Kapal Terkait Israel: Belum ada jaminan apakah kapal yang terafiliasi dengan Israel akan diizinkan melintas.
Risiko Ranjau: Keberadaan ranjau di jalur pelayaran masih menjadi kekhawatiran utama bagi keamanan maritim.
Respons AS: Sumber keamanan Barat mengonfirmasi rencana ini telah dipersiapkan, namun Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait tawaran tersebut.
Jika proposal ini disepakati, diproyeksikan akan menjadi langkah awal yang signifikan untuk memulihkan stabilitas perdagangan energi global dan menurunkan risiko volatilitas harga minyak dunia. ***

