Stabilitas.id – Nilai tukar rupiah melampaui level psikologis baru dengan menembus Rp17.100 per dolar AS pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Meski tekanan terhadap mata uang garuda kian berat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kesehatan fiskal tetap terjaga dengan proyeksi defisit di angka 2,9% terhadap PDB.
Purbaya mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi ketahanan APBN dengan menaikkan asumsi kurs dan harga minyak mentah di level US$ 100 per barel. Hasilnya, defisit diprediksi tetap berada di bawah ambang batas legal 3%.
“Jadi itu (pelemahan rupiah) masih termasuk dalam hitungan skenario. Angka simulasi itu bukan menggunakan asumsi APBN sebelumnya, sudah kami naikkan di level tertentu,” ujar Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta.
BI Prioritaskan Stabilitas Nilai Tukar
Di sisi moneter, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa stabilisasi rupiah kini menjadi prioritas utama. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan otoritas akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter untuk meredam volatilitas.
BI memastikan kehadiran aktif di pasar uang melalui tiga jalur utama: Pasar Spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
“BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang untuk meredam volatilitas yang dipicu sentimen global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah,” tegas Destry.
Analisis: Bukan Sekadar Faktor Global
Rupiah tercatat melemah 0,41% ke level Rp17.105 per dolar AS pada penutupan hari ini, menjadi salah satu yang terlemah di Asia setelah peso Filipina. Kepala Makroekonomi dan Keuangan Indef, Muhammad Rizal Taufikurahman, menilai tekanan ini tidak hanya dipicu oleh global shock, tetapi juga faktor domestik.
| Faktor Tekanan Domestik (Hingga Maret 2026) | Data/Capaian |
| Defisit APBN | Mencapai ± Rp240 Triliun |
| Cadangan Devisa | Turun ke US$ 151,9 Miliar (Februari) |
| Aksi Jual Asing di SBN | Rp3,35 Triliun (Net Sell) |
| Pertumbuhan Ekspor | Melambat di level 1% |
Sensitivitas APBN terhadap Kurs
Pelemahan ini memberikan dampak ganda bagi postur anggaran. Berdasarkan data sensitivitas APBN 2026, setiap pelemahan nilai tukar sebesar Rp100 akan menaikkan pendapatan negara Rp5,3 triliun, namun di sisi lain menambah belanja negara sebesar Rp6,1 triliun. Artinya, terdapat defisit tambahan sekitar Rp800 miliar untuk setiap pelemahan Rp100.
Mengingat asumsi awal APBN 2026 dipatok pada level Rp16.500, posisi saat ini menuntut kedisiplinan fiskal yang lebih ketat. Indef mengingatkan bahwa intervensi BI saja tidak cukup; pemerintah harus mampu menahan ekspansi fiskal agar persepsi risiko pasar tidak semakin memburuk di kuartal II/2026. ***

