Stabilitas.id – PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) membukukan kinerja positif pada awal tahun dengan raihan laba sebelum pajak konsolidasi sebesar Rp2,3 triliun pada kuartal I/2026. Pertumbuhan ini ditopang oleh efisiensi biaya dana melalui rasio CASA yang mencapai level tertinggi.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan bahwa emiten bersandi BNGA ini memulai tahun 2026 dengan fondasi yang kuat. Selain laba, perseroan mencatatkan laba per saham atau earnings per share (EPS) sebesar Rp70,20.
“Pertumbuhan pendapatan tetap terjaga stabil, didukung oleh strategi pengelolaan biaya yang disiplin serta pertumbuhan kredit yang selektif. Kami juga berhasil menjaga margin berkat dukungan pendanaan current account savings account (CASA) yang kuat dengan rasio tertinggi sebesar 73,9%,” ujar Lani dalam keterangan resmi, Kamis (30/4/2026).
Kinerja Kredit dan Kualitas Aset
Hingga 31 Maret 2026, total aset konsolidasian BNGA mencapai Rp368,2 triliun, memperkokoh posisinya sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia.
Dari sisi fungsi intermediasi, total kredit/pembiayaan tumbuh 2,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp235,1 triliun. Segmen Corporate Banking menjadi motor utama dengan pertumbuhan 4,8% YoY, disusul UKM sebesar 1,2% YoY. Sementara itu, di segmen konsumer, Kredit Pemilikan Mobil (KPM) tumbuh 4,0% YoY.
Meski kredit tumbuh, Lani memastikan kualitas aset tetap aman. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) dilaporkan berada di bawah rata-rata industri dengan biaya kredit (cost of credit) terjaga di bawah level 1%.
Dominasi Dana Murah dan Digitalisasi
CIMB Niaga mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 2,3% YoY menjadi Rp260,1 triliun. Lonjakan signifikan terjadi pada saldo CASA yang naik 12,2% YoY menjadi Rp192,3 triliun. Hal ini membuat struktur pendanaan bank semakin efisien.
Keberhasilan ini tidak lepas dari akselerasi layanan digital. Tercatat, sebanyak 90,6% transaksi keuangan nasabah dilakukan melalui kanal branchless banking seperti OCTO Mobile dan OCTO Clicks. Transaksi melalui aplikasi OCTO sendiri melonjak 29% pada kuartal I/2026.
“Ke depan, kami akan terus memprioritaskan pertumbuhan fee-based income untuk memperkuat pendapatan inti, sembari tetap disiplin menjaga kualitas aset sesuai strategi Forward30,” tambah Lani.
Unit Syariah dan Keberlanjutan
Di sisi lain, Unit Usaha Syariah (UUS) atau CIMB Niaga Syariah tetap mempertahankan takhta sebagai UUS terbesar di Indonesia dengan total pembiayaan Rp52,9 triliun dan DPK Rp45,0 triliun.
Perseroan juga semakin agresif dalam implementasi ESG (Environmental, Social, and Governance). Pembiayaan berkelanjutan BNGA tercatat mencapai Rp60,2 triliun, atau setara dengan 26% dari total portofolio kredit perusahaan. Sebanyak Rp25,7 triliun di antaranya dialokasikan untuk sektor UMKM.
Pada kuartal ini, BNGA juga memperkenalkan OCTOBIZ, sebuah platform digital terintegrasi yang menyasar nasabah non-ritel (bisnis dan korporasi). Sejak diluncurkan secara terbatas pada Februari 2026, platform ini telah diadopsi oleh lebih dari 20.000 perusahaan. ***
Indikator Keuangan CIMB Niaga (BNGA) Kuartal I/2026:
| Indikator | Capaian (1Q26) | Keterangan (YoY) |
| Laba Sebelum Pajak | Rp2,3 Triliun | Positif |
| Total Kredit | Rp235,1 Triliun | Naik 2,2% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | Rp260,1 Triliun | Naik 2,3% |
| Rasio CASA | 73,9% | Tertinggi |
| CAR (Permodalan) | 25,3% | Kuat |
| LDR (Likuiditas) | 89,2% | Sehat |

