Hadapi Volatilitas Global, ASEAN Luncurkan Project Revive dan Finance Sectoral Plan 2026–2030

Arif Ahmad
3 Min Read


Stabilitas.id – Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (AFMGM) menyepakati penguatan langkah kebijakan dan kerja sama strategis guna menjaga stabilitas ekonomi kawasan di tengah dinamika global yang penuh tekanan. Pertemuan ke-13 yang berlangsung di Filipina, Jumat (10/4/2026), menegaskan ketangguhan ekonomi ASEAN yang tetap ditopang oleh permintaan domestik dan investasi yang terjaga.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia diwakili oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta. Para pemimpin otoritas moneter dan fiskal ASEAN menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah kebijakan yang diperlukan guna menghadapi risiko ketegangan geopolitik, volatilitas arus modal, hingga tantangan perubahan iklim.

Langkah Konkret: Project Revive dan Visi 2045

ASEAN secara resmi telah menyusun Finance Sectoral Plan 2026–2030 sebagai peta jalan menuju ASEAN Community Vision 2045. Selain itu, diimplementasikan inisiatif Project Revive untuk memperbaiki tata kelola dan proses kerja sama di sektor keuangan.

“Keberhasilan Project Revive sangat bergantung pada komitmen kuat seluruh anggota ASEAN dalam memastikan kerangka kerja sama baru mampu membahas isu strategis seperti ekonomi makro dan risiko kawasan secara efektif,” ujar Filianingsih Hendarta.

Tiga Prioritas Utama (PEDs) 2026

Di bawah keketuaan Filipina tahun ini, disepakati tiga Priority Economic Deliverables (PEDs) utama pada jalur keuangan:

  1. Pasar Modal Berkelanjutan: Menciptakan pasar yang lebih tangguh terhadap guncangan eksternal.

  2. Konektivitas Pembayaran Regional: Mempercepat sistem pembayaran lintas batas yang aman dan efisien.

  3. Financial Health: Mengangkat dimensi baru inklusi keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penguatan Jaring Pengaman Keuangan

Dalam aspek integrasi, ASEAN mencatat kemajuan signifikan melalui penyempurnaan ASEAN Banking Integration Framework (ABIF) dan perluasan implementasi Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang global tertentu.

Kawasan juga menyambut kesepakatan baru ASEAN Swap Arrangement (ASA). Instrumen ini berfungsi sebagai jaring pengaman (financial safety net) yang krusial untuk menjaga kecukupan cadangan devisa dan stabilitas pasar keuangan di tengah ketidakpastian arus modal keluar.

Pertemuan ini juga menekankan pentingnya mobilisasi pendanaan publik dan swasta untuk mendukung transisi ekonomi rendah karbon. Dengan penguatan kapasitas negara anggota dalam pembiayaan iklim, ASEAN optimis dapat menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan hingga penyelenggaraan AFMGM ke-14 di Singapura pada 2027 mendatang. ***



Source link

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *