Dunia Masih Tertekan, BI Ungkap 3 Tantangan Besar yang Menghadang Ekonomi RI

Arif Ahmad
3 Min Read


Stabilitas.id Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memberikan peringatan keras mengenai kondisi ekonomi global yang kini berada di bawah tekanan tinggi. Ketidakpastian yang berkelanjutan, menurutnya, menuntut Indonesia untuk lebih waspada dan memperkuat ketahanan ekonomi domestik sebagai jangkar pertumbuhan di tengah gejolak eksternal.

Perry menjelaskan bahwa tekanan terhadap ekonomi global tidak hanya bersumber dari kebijakan tarif Amerika Serikat, tetapi juga diperparah oleh dinamika geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah. Faktor-faktor ini secara langsung memengaruhi harga komoditas global, mempertahankan suku bunga di level tinggi, dan memicu tekanan aliran modal keluar (capital outflow) bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Saat ini kita berada dalam situasi yang tidak mudah. Dunia sering dikatakan tidak baik-baik saja dan bahkan semakin tidak pasti. Kita tidak hanya menghadapi perlambatan, tetapi juga dengan ketidakpastian yang tinggi dan terus berlanjut,” ujar Perry dalam acara Kick Off Pinisi di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Tiga Tantangan Utama

Menghadapi tantangan global tersebut, BI menekankan pentingnya sinergi antara otoritas moneter, pemerintah, dan regulator untuk menjaga stabilitas serta memacu permintaan dalam negeri. Perry memaparkan tiga tantangan utama yang harus segera direspons secara efektif:

  1. Memperkuat Kepercayaan Pelaku Usaha:

    Aliran pembiayaan harus diarahkan secara strategis ke proyek-proyek prioritas nasional. Hal ini krusial untuk menjaga stabilitas makro sekaligus memastikan roda ekonomi tetap berputar dengan dukungan investasi yang produktif.

  2. Menguatkan Mesin Ekonomi Domestik:

    Konsumsi rumah tangga harus terus dijaga sebagai penopang utama pertumbuhan. Selain itu, investasi juga perlu ditingkatkan untuk mendukung agenda prioritas pemerintah. Dalam hal ini, kapasitas pembiayaan menjadi faktor penentu agar mesin pertumbuhan tidak kehilangan momentum.

  3. Efektivitas Implementasi Kebijakan:

    Kebijakan yang dirumuskan di tingkat pusat harus mampu berjalan efektif hingga ke level dunia usaha dan sektor perbankan. Sinkronisasi kebijakan menjadi kunci agar transmisi stimulus dapat dirasakan langsung oleh pelaku ekonomi di lapangan.

Prioritas Ketahanan Eksternal

Di tengah ketidakpastian arus modal, BI terus mengedepankan penguatan ketahanan eksternal. Perry menegaskan bahwa koordinasi yang erat dengan pemerintah menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengelola dampak dari kebijakan suku bunga global yang masih tertahan di level tinggi.

Menurutnya, menjaga permintaan dalam negeri tetap solid adalah langkah pertahanan terbaik. Sektor swasta dan pemerintah didorong untuk terus bersinergi guna mengoptimalkan kapasitas pembiayaan nasional.

Langkah BI ini menggarisbawahi upaya otoritas untuk tidak sekadar bereaksi terhadap dinamika global, tetapi juga proaktif dalam menjaga momentum pertumbuhan di atas 5% yang telah menjadi target pemerintah. Dengan memastikan kebijakan tersampaikan dengan baik ke sektor riil dan perbankan, BI optimistis fundamental ekonomi Indonesia akan tetap tangguh dalam mengarungi ketidakpastian global sepanjang tahun 2026. ***



Source link

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *